Pengajian PDHI DIY : Momentum Penguatan Wakaf, Bupati Tegaskan Komitmen Kulon Progo Kota Wakaf
mgstv.co.id, KULON PROGO – Ribuan jemaah Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia (PDHI) se-Daerah Istimewa Yogyakarta memadati Masjid Syukur, Garongan, Panjatan, Kulon Progo, Minggu (5/7/2026). Selain menjadi ajang silaturahmi dan penguatan spiritualitas, pengajian Ahad Pon tersebut juga dimanfaatkan untuk mempertegas komitmen Kulon Progo sebagai Kota Wakaf.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menilai tingginya partisipasi masyarakat dalam pengajian mencerminkan masih kuatnya kebutuhan ruang-ruang kebersamaan berbasis keagamaan di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
“Kehadiran jemaah yang luar biasa banyak dari Sleman, Kota Yogyakarta, Bantul, Gunung Kidul, dan Kulon Progo sendiri. Saya masuk sudah bisnya cukup banyak, sehingga saya mau parkir saja sudah sulit. Ini karena gairah yang sangat luar biasa hebat dari jalinan silaturahmi jamaah pengajian PDHI semua,” kata Agung.
Menurut Agung, penguatan karakter masyarakat tidak dapat hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi harus diimbangi dengan pembangunan spiritual dan budaya berbagi. Salah satu langkah yang sedang dikembangkan pemerintah daerah adalah gerakan wakaf produktif.
“Adanya daerah yang religius, pembangunan karakter dan spiritualitas kita utamakan, sehingga kita pun kemarin sudah mencanangkan Kulon Progo menjadi Kota Wakaf,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep Kota Wakaf diharapkan mampu menggerakkan partisipasi masyarakat untuk menyalurkan aset maupun harta benda yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan umat.
Namun demikian, keberhasilan program tersebut dinilai tidak hanya bergantung pada semangat berwakaf, tetapi juga pada tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.
Ketua Panitia Pengajian Ahad Pon PDHI DIY, Kamari, S.Pd., M.Si., menyebut pengajian menjadi media untuk memperkuat kepedulian sosial sekaligus menghidupkan tradisi amal jariyah di tengah masyarakat.
“Kehadiran para jemaah bukan sekadar untuk memperdalam ilmu agama, melainkan juga menjadi sarana pengikat tali silaturahmi yang kuat sekaligus ladang untuk menanam amal jariyah yang pahalanya mengalir tanpa putus,” ujar Kamari.
Ia mengungkapkan, Masjid Syukur yang menjadi lokasi kegiatan merupakan hasil semangat gotong royong masyarakat setelah masjid lama terdampak pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Berkat hibah tanah dari warga, masjid baru kini telah berdiri dan mulai digunakan sejak Januari 2024.
Meski demikian, sejumlah fasilitas pendukung masih memerlukan penyelesaian. Panitia pun memanfaatkan momentum pengajian untuk mengajak jemaah dan para donatur berpartisipasi dalam pengembangan sarana ibadah, khususnya bagi anak-anak dan lanjut usia. (Wurdam)
