Siti Saidah Ungkap Strategi SPS Perkuat Petani Lokal
MGSTV.CO.ID, JAKARTA — PT Sumber Pangan Sukses (SPS) memperkuat kemitraan dengan petani lokal dan penggilingan padi untuk meningkatkan kapasitas produksi serta kualitas hasil pertanian. Upaya ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengembangkan bisnis pangan saat memasuki usia ke-14 tahun.
Direktur PT Sumber Pangan Sukses, Siti Saidah, mengatakan dukungan permodalan, pasokan bahan baku, dan pendampingan teknis menjadi sejumlah langkah yang dilakukan perusahaan untuk membantu mitra usaha mengembangkan kapasitas produksinya.
Hal tersebut disampaikan Siti Saidah, yang akrab disapa Ida, dalam wawancara khusus di sela-sela perayaan ulang tahun ke-14 SPS di Grand Mercure Jakarta Kemayoran, Selasa (27/10/2026).
Menurut Ida, pengalaman di berbagai sektor pangan menjadi bekal dalam mengembangkan usaha, mulai dari peternakan ayam, industri olahan kelapa, bisnis beras, hingga kelapa sawit.
Ia menyebut telah memiliki pengalaman selama 34 tahun di industri peternakan ayam dan 17 tahun di industri pengolahan tepung kelapa. Produk olahan kelapa yang dikelolanya digunakan sebagai bahan baku biskuit, dengan sekitar 99 persen produksinya ditujukan untuk pasar ekspor.
SPS Bantu Permodalan Penggilingan Padi
Dalam bisnis beras yang telah dijalankan sekitar delapan tahun, SPS menjalin kemitraan dengan penggilingan padi berskala kecil di sejumlah daerah, termasuk Cikarang, Karawang, Bekasi, dan Indramayu.
Ida mengatakan, penggilingan padi dengan kapasitas sekitar lima hingga 20 ton per hari masih menghadapi kendala permodalan dan keterbatasan kapasitas produksi.
Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, SPS memberikan dukungan berupa pasokan gabah, modal kerja di muka, serta pendampingan teknis kepada mitra penggilingan.
“Kapasitas penggilingan mereka mungkin masih kecil dan modalnya terbatas. Kami berupaya hadir dengan membantu pasokan gabah, modal kerja, serta memberikan pendampingan agar produksi mereka semakin baik,” ujar Ida.
Pendampingan dilakukan dengan melibatkan staf perusahaan untuk memberikan arahan teknis terkait proses produksi dan peningkatan kualitas hasil.
Melalui kemitraan tersebut, perusahaan berupaya membangun jaringan pasokan bahan baku sekaligus membuka peluang bagi penggilingan padi kecil untuk mengembangkan usahanya.
Ida juga menjelaskan bahwa pada periode 2022–2024, kegiatan bisnis beras SPS didominasi impor, seiring kebijakan pemerintah yang memungkinkan kegiatan tersebut. Pada saat yang sama, perusahaan turut mengembangkan kerja sama dengan penggilingan padi lokal.
Kembangkan Bisnis Kelapa Sawit
Selain beras, SPS mengembangkan bisnis di sektor kelapa sawit. Ida mengatakan, selama sekitar enam tahun terakhir, dirinya lebih banyak berkecimpung dalam pengelolaan dan pengembangan industri sawit.
Perusahaan mengembangkan bisnis tersebut secara bertahap, termasuk melalui fasilitas industri di kawasan Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP).
Menurut Ida, kemampuan produksi fasilitas tersebut telah meningkat dibandingkan sebelumnya, meskipun pengembangan masih terus dilakukan.
Untuk memenuhi kebutuhan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), SPS menjalin pasokan dari sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Bangka, Dumai, Medan, Aceh, dan Lampung.
Sementara itu, pasokan gabah untuk bisnis beras berasal dari sejumlah daerah, termasuk Madura, Bojonegoro, Kudus, Karawang, Cikarang, dan Indramayu.
Jaringan pasokan lintas daerah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga ketersediaan bahan baku untuk mendukung kegiatan produksi.
Pemberdayaan Petani Jadi Prioritas
Memasuki usia ke-14 tahun, SPS menempatkan pemberdayaan petani lokal sebagai salah satu prioritas pengembangan usaha.
Ida mengatakan, perusahaan ingin membantu petani meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki kualitas hasil, dan memperluas peluang kerja sama.
“Visi kami adalah bagaimana memaksimalkan potensi petani lokal dan memberdayakan mereka. Kami ingin berupaya semaksimal mungkin agar bisa bekerja sama, membantu keterbatasan modal, meningkatkan kapasitas, serta memperbaiki kualitas mereka,” kata Ida.
Menurutnya, dukungan permodalan perlu disertai peningkatan keterampilan agar petani dan mitra penggilingan mampu menghasilkan produk sesuai kebutuhan pasar.
Salah satu langkah yang dilakukan SPS adalah mengadakan pelatihan bagi pelaku usaha beras dan penggilingan padi dengan melibatkan karyawan perusahaan. Kegiatan tersebut pernah diselenggarakan di sebuah hotel di Karawang.
Pelatihan itu ditujukan untuk meningkatkan pemahaman mitra mengenai proses produksi, kualitas hasil, dan pengelolaan usaha.
Bagi Ida, peningkatan kemampuan petani dan mitra penggilingan merupakan bagian penting dalam membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Tantangan Industri Pangan ke Depan
Pengembangan industri pangan menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketersediaan bahan baku dan akses permodalan hingga efisiensi serta kualitas produksi.
Dalam kondisi tersebut, kemitraan antara perusahaan, petani, pemasok, dan pelaku industri pengolahan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung rantai pasok.
Pengalaman SPS di sektor peternakan ayam, olahan kelapa, beras, dan kelapa sawit menjadi bagian dari perjalanan perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya.
Memasuki tahun ke-14, perusahaan berupaya melanjutkan pengembangan usaha sekaligus memperkuat kemitraan dengan petani dan pelaku industri lokal.
Namun, kontribusi program kemitraan terhadap peningkatan kesejahteraan petani dan kapasitas produksi masih perlu dilihat melalui data yang terukur, termasuk jumlah mitra yang terlibat dan hasil yang telah dicapai.
Editor : Edwin S
