Bekerja 24 Jam Demi Petani, Sosok Ulu-Ulu Sang Pahlawan Air Pertanian Warga

0
IMG-20260801-WA0006

mgstv.co.id, SUKABUMI – Sebagian mungkin sudah akrab dan pernah mendengar sebutan Ulu-ulu atau petugas yang mengatur distribusi air ke ladang-ladang pertanian. Ulu-ulu, bukanlah sebuah jabatan karir apalagi jabatan politik, melainkan sebuah tugas yang diperoleh berdasarakan penunjukan para petani. Adapun sebagai imbalan dari tugas berat tersebut hanyalah bentuk sumbangan seikhlasnya yang diberikan para petani setelah musim panen.

Ditemui di ladang garapan petani di Desa Sukaresmi, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Kamis, (30/07/2026). Ahda, 60 tahun yang baru dua tahun bertugas sebagai ulu-ulu mengaku menjalankan tugas sebagai ulu-ulu membutuhkan kesiapan selama 24 jam.

Dalam sehari, lelaki berusia lanjut tersebut bahkan harus bolak-balik sejauh dua kilo meter untuk memastikan kelancaran saluran air dari hulu hingga area persawahan yang menjadi tanggung jawabnya.

“Dina sape abah kadang bisa dua nepika tilu balikan mapay susukan, bisi aya anu rempag atawa anu caina dicokot ku batur (kadang dalam satu hari, abah bisa dua sampai tiga balikan mengontrol saluran air, takut ada yang longsor atau airnya di ambil yang lain)”, lirihnya dalam bahasa Sunda.

Menurutnya, datangnya musim kemarau menjadi tantangan yang lebih berat. Selain memastikan aliran air sampai ke area persawahan yang menjadi wilayahnya, ia juga harus memantau penuh sistem pembagian air dengan ulu-ulu lainnya.

“Musim halodo kieumah tugas abah lain ngan saukur neang cai ka dawuan, tapi kudu babagi jeung anu lain supaya ka batur ngocor, pas giliran kadieu oge ngocor. (Musim kemarau begini tugas abah bukan sekedar mengontrol air ke hulu, tapi harus berbagi dengan ulu-ulu lain agar ke yang lain ngalir, pas giliran ke sini juga mengalir)”, ungkapnya dalam bahasa sunda.

Baca Juga  Polres Sukabumi Kota Perbaiki Jembatan Gantung Usia 104 Penghubung Dua Kecamatan 

Ahda mengatakan, selama menjadi petugas pengairan atau ulu-ulu, ia hanya mendapatkan imbalan yang diberikan para petani di wilayah tugasnya setiap kali panen (empat bulan musim tanam) antara 50 ribu sampai 100 ribu per orang, dengan total pendapatan antara 400 ribu hingga 700 ribu setiap 4 bulan.

“Sedih lamun dicaritakeunmah, tah tanya mumu usum kamarimah ukur meunang 400 rebu tina sa usum, lamun usum kadituna kadang 700 rebu, kumaha anu merena bae (sedih kalau diberitain, tanya saja mumu musim lalu cuma dapat 400 ribu se musim, kalau musim sebelum-sebelumnya kadang 700 ribu tergantung yang ngasihnya)”, pungkasnya dengan nada lesu.

Petugas pengatur air (ulu-ulu) tidak pernah tercatat dalam komponen sebagai petugas resmi yang mendapat honor atau jabatan dari pemerintah. Ulu-ulu hanyalah serpihan kecil sebagai sosok vital bagi para petani di daerah. Tanpa kehadiran ulu-ulu, beban para petani akan semakin berat dalam bercocok tanam. (Isman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *